Dari Gerobak ke Harapan: Potret Penghasilan Pedagang Asongan di Tengah Sepinya Jalan

Kategori: Sosial, Ekonomi Rakyat, Urban Life
Penulis: @Lumisight_Seven

Di sela bisingnya lalu lintas kota, suara khas pedagang asongan selalu hadir: “Permennya, kerupuknya, air mineralnya, bang...” Suara itu bukan sekadar ajakan beli, tapi napas harian ribuan orang yang menggantungkan hidup dari lapak bergerak, tanpa toko, tanpa etalase.

Namun bagaimana sebenarnya realitas penghasilan pedagang asongan? Apa bedanya ketika jalanan ramai dan ketika kota terasa mati? Mari kita menyelami dunia mereka — dunia yang jarang mendapat sorotan, tapi menyimpan banyak pelajaran tentang daya tahan, ekonomi mikro, dan semangat hidup.

Siapa Pedagang Asongan Itu? Pedagang asongan adalah mereka yang menjajakan barang secara berpindah-pindah (biasanya tanpa lapak tetap), menjual produk ringan seperti:

Minuman botol, kopi sachet

Permen, kerupuk, rokok

Tisu, gantungan kunci, aksesori HP

Mainan kecil, masker, hingga kaos kaki

Mereka bisa ditemui di:

Lampu merah

Peron stasiun dan terminal

Jalanan macet

Dalam kereta atau bus kota

Sekitar tempat wisata dan stadion

Penghasilan: Saat Sepi vs Saat Ramai Banyak orang mengira pedagang asongan punya penghasilan tetap. Padahal, penghasilan mereka sangat fluktuatif dan sangat tergantung pada keramaian, cuaca, dan lokasi.

✅ Saat Ramai (Libur, Event, Jam Pulang Kerja): Omzet harian: Rp200.000 – Rp500.000 (tergantung barang yang dijual)

Laba bersih: Rp80.000 – Rp200.000 (tergantung modal, barang yang cepat laku seperti air mineral, kerupuk, dan rokok sachet)

Contoh nyata:

Pak Sarwan, penjual kerupuk di sekitar GBK, mengaku bisa untung Rp150.000 dalam sehari saat ada konser atau pertandingan sepak bola.

“Kalau ada event, bisa jual habis 6 plastik. Tapi itu jarang. Seminggu cuma sekali dua kali,” ujarnya sambil mengikatkan topi dari plastik di kepala.

❌ Saat Sepi (Hujan, Hari Biasa, Pandemi): Omzet harian: Rp50.000 – Rp100.000

Laba bersih: Rp10.000 – Rp40.000

Saat jalanan sepi atau diguyur hujan, pedagang asongan hanya bisa bernaung di bawah flyover atau halte. Banyak dari mereka justru tekor karena:

Barang tak laku, terutama makanan ringan

Kehujanan dan rusak

Terpaksa pulang dengan stok tak habis

“Kalau hujan, cuma duduk aja. Minuman juga jadi dingin, susah laku,” kata Bu Mira, penjual air mineral di jalur kereta Bogor.

Tantangan Pedagang Asongan Tidak ada jaminan pendapatan – Tidak semua hari bisa “nembak” omzet.

Keterbatasan modal – Modal hanya cukup untuk belanja stok harian.

Terbatasnya lokasi jualan – Banyak area resmi melarang asongan.

Tidak dilindungi hukum atau asuransi kerja – Rawan razia dan kehilangan barang.

Tergantung musim dan event kota

Peluang & Strategi Bertahan Meski banyak tantangan, para pedagang asongan bukanlah sosok pasrah. Mereka terus berinovasi:

Gabung ke komunitas agar bisa dapat info lokasi ramai

Gunakan e-wallet & QRIS — semakin banyak pedagang yang mau terima pembayaran digital

Beralih ke produk yang lebih cepat laku: seperti rokok isi ulang, aksesoris HP, hingga masker custom

Bergabung di platform digital lokal seperti info lokasi pasar malam, event, CFD, dll

Bahkan kini ada beberapa gerakan NGO dan komunitas yang mendampingi pedagang kecil untuk belajar cara branding, memilih produk, hingga mengatur modal.

Pelajaran dari Jalanan: Daya Tahan & Adaptasi Dari mereka kita belajar bahwa ekonomi tidak selalu tentang angka besar. Ekonomi juga adalah tentang:

Insting membaca pasar

Kedisiplinan meski tak digaji

Keteguhan bangun pagi meski tak ada jaminan akan untung

Seperti kata Mas Deni, pedagang rokok keliling di Semanggi: “Saya tidak kaya, tapi saya jalan terus. Karena kalau saya diam, perut nggak bisa ditunda.”

📌 Referensi & Link Internal: Baca juga artikel lain seputar ekonomi rakyat & budaya jalanan: 🔗 https://heylink.me/Lumisight_Meriah 🔗 https://heylink.me/Meriahdeals

📝 Penutup Pedagang asongan adalah denyut kecil dalam nadi ekonomi kota. Mereka tidak muncul di statistik besar, tapi mereka adalah wajah nyata perjuangan ekonomi mikro yang keras — jujur, lincah, dan penuh semangat bertahan hidup.

Di tengah perubahan zaman dan teknologi, pedagang asongan tetap berdiri — walau sering tak terlihat, mereka tak pernah benar-benar hilang.

Mereka adalah pengingat bahwa ekonomi bukan hanya milik yang ber-AC. Tapi juga milik yang berkeringat di jalanan.

🏷️ Tag: #PedagangAsongan #EkonomiRakyat #KisahUrban #UMKMIndonesia #EkonomiMikro #CeritaJalanan #KotaDanManusia #Indonesia #Meriah #IndonesiaHariIni

0
Subscribe to my newsletter

Read articles from Gerry Rasachocolate directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.

Written by

Gerry Rasachocolate
Gerry Rasachocolate