Tukang Semir Sepatu: Potret Kehidupan dan Ekonomi di Tengah Langkah Kota

Kategori: Sosial, Ekonomi Mikro, Urban Life
Penulis: @Lumisight_Seven

Di sudut-sudut trotoar kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, masih bisa kita temukan sosok sederhana yang sering luput dari sorotan: tukang semir sepatu. Duduk bersila dengan kotak semir di depan kaki mereka, mereka menunggu pelanggan dengan sabar—seringkali berjam-jam lamanya.

Dalam dunia yang bergerak cepat menuju digitalisasi dan efisiensi, profesi ini seolah menjadi artefak hidup dari masa lalu. Namun di balik itu, terdapat cerita kehidupan yang kuat dan ekonomi mikro yang nyata.

Profesi Tua yang Masih Bertahan Tukang semir sepatu mungkin terdengar seperti pekerjaan kuno. Tapi bagi sebagian orang, inilah mata pencaharian utama. Dengan penghasilan harian yang tidak menentu, mereka menjalani hidup dari semir ke semir.

“Kalau hari kerja ramai, bisa dapat 70 sampai 100 ribu. Tapi kalau sepi, ya 20 ribu juga alhamdulillah,” ujar Pak Rohman (62), tukang semir yang biasa mangkal di Stasiun Gondangdia, Jakarta.

Ia sudah menjadi tukang semir sejak tahun 1990. Dulu, katanya, hampir semua orang pakai sepatu kulit ke kantor. Tapi kini, gaya hidup sudah berubah.

“Sekarang banyak yang pakai sneakers atau sepatu sport, jarang yang perlu disemir. Tapi masih ada saja yang datang, biasanya yang kerja di kantor lama atau orang tua,” tambahnya sambil tersenyum.

Penghasilan Harian: Tak Pasti, Tapi Tetap Dicari Rata-rata penghasilan tukang semir sepatu berkisar antara Rp 20.000 – Rp 100.000 per hari, tergantung lokasi dan jumlah pelanggan. Di area perkantoran atau dekat stasiun, peluang lebih tinggi. Tapi persaingan dan perubahan gaya hidup juga menekan pendapatan.

Beberapa tukang semir menetapkan tarif sekitar Rp 10.000 – Rp 15.000 per pasang, tergantung jenis sepatu dan bahan semir yang digunakan. Ada juga yang mengandalkan tip dari pelanggan tetap.

“Kadang ada yang ngasih 20 ribu cuma buat satu pasang, bilang ‘nggak usah kembalian’. Tapi sering juga nggak ada pelanggan seharian,” cerita Pak Mulyono, tukang semir di kawasan Pasar Baru.

Realita Hidup di Jalanan Tukang semir sepatu bukan hanya bekerja keras secara fisik. Mereka juga hidup dalam kondisi serba terbatas. Banyak dari mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, atau tinggal di rumah petak sempit bersama keluarga.

“Saya tinggal di kontrakan kecil, bareng istri dan anak saya. Sekolah anak pakai uang dari semir ini juga,” kata Pak Didin, tukang semir di daerah Sudirman.

Mereka juga rentan terhadap cuaca, karena sebagian besar bekerja di ruang terbuka. Saat musim hujan, mereka kehilangan potensi penghasilan. Sementara saat panas, mereka harus tahan berjam-jam di bawah terik matahari.

Perspektif Sosial: Antara Stigma dan Empati Sayangnya, masih banyak orang yang memandang sebelah mata profesi ini. Padahal, semir sepatu bukan sekadar pekerjaan rendahan. Ia adalah bentuk nyata dari kerja keras, ketekunan, dan ketulusan.

“Saya bangga jadi tukang semir. Lebih baik kerja halal daripada ngemis,” ucap Pak Udin tegas, yang telah menjadi tukang semir sejak usia 20-an.

Di tengah tantangan ekonomi, mereka tetap memilih bekerja daripada meminta. Itulah nilai yang sering dilupakan dalam hiruk-pikuk kota.

Bertahan dengan Keterampilan Tangan Yang menarik, tukang semir sepatu bukan hanya menyemir. Mereka juga biasanya tahu jenis-jenis bahan kulit, paham teknik membersihkan noda membandel, hingga bisa memperbaiki bagian sol atau tali sepatu.

Beberapa bahkan punya pelanggan tetap dari kalangan profesional yang selalu kembali karena puas dengan hasil kerja mereka.

“Sepatu saya pernah rusak bagian depan. Sama Pak Anton disemir dan disambung jadi bagus lagi. Sejak itu saya rutin ke dia,” kata Pak Yogi, seorang karyawan swasta.

Apakah Profesi Ini Akan Punah? Dengan makin banyaknya sepatu berbahan sintetis, penggunaan sneakers, dan pergeseran ke gaya kasual, peran tukang semir memang semakin terpinggirkan.

Namun, banyak yang tetap bertahan karena:

Tidak memiliki keterampilan lain

Usia sudah tidak memungkinkan untuk alih profesi

Ikatan emosional terhadap pekerjaan ini

Beberapa tukang semir kini mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Ada yang mulai membuat konten di TikTok atau Instagram, memperlihatkan proses menyemir sepatu sebagai konten satisfying. Ada pula yang bekerjasama dengan kafe, coworking space, atau event lokal.

Artikel Terkait & Dukungan Lokal Jika kamu ingin mengenal lebih banyak profesi rakyat kecil dan potret ekonomi mikro di Indonesia, kunjungi: 🔗 https://heylink.me/Lumisight_Meriah 🔗 https://heylink.me/Meriahdeals

Penutup: Kilau yang Tak Pernah Pudar Tukang semir sepatu mungkin bukan simbol kemajuan teknologi. Tapi mereka adalah pengingat bahwa kerja keras masih hidup di tengah kita.

Mereka membersihkan sepatu agar pemiliknya bisa berjalan lebih percaya diri. Sementara mereka sendiri terus berjalan dengan harapan yang sederhana: bisa makan hari ini, bisa bayar kontrakan, dan bisa melihat anak-anak mereka tumbuh.

Kilau sepatu yang mereka hasilkan adalah pantulan dari nilai-nilai kejujuran, ketekunan, dan keberanian.

🏷️ Tags / Hashtag: #TukangSemirSepatu #EkonomiMikro #PekerjaJalanan #ProfesiKecilBermakna #KisahWarga #UrbanLifeIndonesia #KehidupanKota #CeritaRakyat #Indonesia #RakyatKecil

0
Subscribe to my newsletter

Read articles from Gerry Rasachocolate directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.

Written by

Gerry Rasachocolate
Gerry Rasachocolate