Dokter RSUD Sekayu Dipaksa Buka Masker, Keluarga Pasien Minta Maaf Pasca Mediasi


Kronologi Kejadian
Pada 12 Agustus 2025, beredar video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang dokter spesialis di RSUD Sekayu—dr. Syahpri Putra Wangsa—dipaksa untuk membuka masker oleh keluarga pasien, meski berada di dalam ruangan perawatan yang mewajibkan penggunaan masker
Pernyataan Dokter dan Respons Facebook
Dr. Syahpri menegaskan bahwa dirinya sudah menjalankan tugas sesuai prosedur dan menjaga pelayanan terbaik kepada pasien. Ia juga menegaskan bahwa masker wajib digunakan di dalam ruangan perawatan, dan pemaksaan membuka masker oleh keluarga pasien tidak dibenarkan .
Upaya Mediasi oleh Pemkab Muba
Respons cepat datang dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Pada 13 Agustus 2025, Bupati Muba melalui Sekretaris Daerah, Dr. Apriyadi MSi, mendatangi RSUD Sekayu dan memfasilitasi mediasi antara dokter dan keluarga pasien. Anggota DPRD Komisi IV dan sejumlah pejabat dinas kesehatan juga turut hadir sekaligus membahas kronologinya. Pemkab mengaku prihatin dan menekankan pentingnya menyelesaikan masalah secara baik-baik tanpa kekerasan .
Dalam mediasi tersebut, keluarga pasien menyatakan permintaan maaf atas kejadian yang terjadi. Mereka mengaku emosi saat itu dan merasa terkejut ketika video telah diedit dan viral di media sosial seolah menggambarkan tindakan kekerasan nyata terhadap dokter .
Sikap dan Tuntutan IDI
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Musi Banyuasin mengecam keras tindakan tersebut, yang dianggap sebagai ancaman terhadap keselamatan tenaga medis. IDI memperkuat sikap tegas dengan mendorong proses hukum terhadap keluarga yang memaksa dokter membuka masker
Reaksi Publik terhadap Komentar Keluarga Pasien
Setelah mediasi, keluarga pasien sempat menuliskan komentar di media sosial, menyatakan bahwa pihak rumah sakit yang seharusnya meminta maaf kepada mereka. Mereka juga mengeluhkan layanan RSUD Sekayu—terutama terkait pemindahan pasien ke ruangan yang diduga bekas isolasi COVID‑19 dan lama pemeriksaan dahak selama lima hari. Komentar tersebut memicu debat publik yang menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dan saling menghargai antara keluarga pasien dan tenaga medis
Seorang dokter rekan, drg. Mirza Mangku Anom, menegaskan bahwa pemeriksaan seperti TBC memang memerlukan waktu dan kehati-hatian. Ia mengingatkan bahwa menyerang tenaga medis secara terbuka bukan solusi—justru memperberat kondisi semua pihak
Rangkuman Singkat
Aspek | Penjelasan |
Kejadian | Dokter di RSUD Sekayu dipaksa membuka masker oleh keluarga pasien yang emosi. |
Respon Dokter | Menyatakan telah menjalankan prosedur, dan pemaksaan masker tidak diperbolehkan. |
Mediasi Pemkab Muba | Sekda memfasilitasi pertemuan, keluarga meminta maaf, pihak RSUD diingatkan profesionalisme. |
Kadadsan IDI | Mengecam, mendesak proses hukum terhadap pelaku, dan mendorong perlindungan tenaga medis. |
Reaksi Publik | Keluarga pasien menyuarakan keluhan layanan; publik dan tenaga medis menyarankan dialog santun. |
Pesan Reflektif
Kejadian ini menjadi pengingat keras akan pentingnya saluran komunikasi yang baik, empati, dan saling menghormati antara keluarga pasien dan tenaga medis. Keluarga pasien boleh saja memiliki frustrasi, tetapi meluapkannya dengan memaksa atau menyerang secara verbal tidaklah baik. Sebaliknya, tenaga medis juga didorong menjelaskan proses secara transparan dan komunikatif—sehingga emosi bisa dikelola dan layanan kesehatan tetap bisa optimal.
Subscribe to my newsletter
Read articles from Camelia directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.
Written by
