Dokter RSUD Sekayu Dipaksa Buka Masker, Keluarga Pasien Minta Maaf Pasca Mediasi

CameliaCamelia
3 min read

Kronologi Kejadian

Pada 12 Agustus 2025, beredar video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang dokter spesialis di RSUD Sekayu—dr. Syahpri Putra Wangsa—dipaksa untuk membuka masker oleh keluarga pasien, meski berada di dalam ruangan perawatan yang mewajibkan penggunaan masker

Pernyataan Dokter dan Respons Facebook

Dr. Syahpri menegaskan bahwa dirinya sudah menjalankan tugas sesuai prosedur dan menjaga pelayanan terbaik kepada pasien. Ia juga menegaskan bahwa masker wajib digunakan di dalam ruangan perawatan, dan pemaksaan membuka masker oleh keluarga pasien tidak dibenarkan .

Tak Ada Permintaan Maaf, Dokter Syahpri Lapor Polisi Pasca Dipaksa Keluarga  Pasien Buka Masker - YouTube

Upaya Mediasi oleh Pemkab Muba

Respons cepat datang dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Pada 13 Agustus 2025, Bupati Muba melalui Sekretaris Daerah, Dr. Apriyadi MSi, mendatangi RSUD Sekayu dan memfasilitasi mediasi antara dokter dan keluarga pasien. Anggota DPRD Komisi IV dan sejumlah pejabat dinas kesehatan juga turut hadir sekaligus membahas kronologinya. Pemkab mengaku prihatin dan menekankan pentingnya menyelesaikan masalah secara baik-baik tanpa kekerasan .

Dalam mediasi tersebut, keluarga pasien menyatakan permintaan maaf atas kejadian yang terjadi. Mereka mengaku emosi saat itu dan merasa terkejut ketika video telah diedit dan viral di media sosial seolah menggambarkan tindakan kekerasan nyata terhadap dokter .

Sikap dan Tuntutan IDI

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Musi Banyuasin mengecam keras tindakan tersebut, yang dianggap sebagai ancaman terhadap keselamatan tenaga medis. IDI memperkuat sikap tegas dengan mendorong proses hukum terhadap keluarga yang memaksa dokter membuka masker

Reaksi Publik terhadap Komentar Keluarga Pasien

Setelah mediasi, keluarga pasien sempat menuliskan komentar di media sosial, menyatakan bahwa pihak rumah sakit yang seharusnya meminta maaf kepada mereka. Mereka juga mengeluhkan layanan RSUD Sekayu—terutama terkait pemindahan pasien ke ruangan yang diduga bekas isolasi COVID‑19 dan lama pemeriksaan dahak selama lima hari. Komentar tersebut memicu debat publik yang menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dan saling menghargai antara keluarga pasien dan tenaga medis

Seorang dokter rekan, drg. Mirza Mangku Anom, menegaskan bahwa pemeriksaan seperti TBC memang memerlukan waktu dan kehati-hatian. Ia mengingatkan bahwa menyerang tenaga medis secara terbuka bukan solusi—justru memperberat kondisi semua pihak


Rangkuman Singkat

AspekPenjelasan
KejadianDokter di RSUD Sekayu dipaksa membuka masker oleh keluarga pasien yang emosi.
Respon DokterMenyatakan telah menjalankan prosedur, dan pemaksaan masker tidak diperbolehkan.
Mediasi Pemkab MubaSekda memfasilitasi pertemuan, keluarga meminta maaf, pihak RSUD diingatkan profesionalisme.
Kadadsan IDIMengecam, mendesak proses hukum terhadap pelaku, dan mendorong perlindungan tenaga medis.
Reaksi PublikKeluarga pasien menyuarakan keluhan layanan; publik dan tenaga medis menyarankan dialog santun.

Pesan Reflektif

Kejadian ini menjadi pengingat keras akan pentingnya saluran komunikasi yang baik, empati, dan saling menghormati antara keluarga pasien dan tenaga medis. Keluarga pasien boleh saja memiliki frustrasi, tetapi meluapkannya dengan memaksa atau menyerang secara verbal tidaklah baik. Sebaliknya, tenaga medis juga didorong menjelaskan proses secara transparan dan komunikatif—sehingga emosi bisa dikelola dan layanan kesehatan tetap bisa optimal.

0
Subscribe to my newsletter

Read articles from Camelia directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.

Written by

Camelia
Camelia