Seni Menjadi Tenang di Tengah Kekacauan: Latihan Jiwa, Ilmu, dan Spiritualitas

Ariska HidayatAriska Hidayat
4 min read

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang terlihat tenang meski dunia sekitarnya kacau? Saat banyak orang marah, ia diam. Saat situasi tidak menentu, ia justru fokus. Seakan-akan ia bukan manusia biasa. Namun faktanya, ketenangan bukanlah bawaan lahir, melainkan keterampilan mental dan spiritual yang dapat dilatih.

Ketenangan adalah pilihan yang diulang setiap hari, hasil dari refleksi, keberanian, dan konsistensi. Inilah pondasi yang membuat seseorang tetap tegak ketika badai datang.


1. Menjadi Reflektif, Bukan Reaktif

Seseorang yang tenang tidak langsung bereaksi terhadap situasi. Ia mengambil jeda: menarik napas, menenangkan diri, baru kemudian merespon. Inilah yang membedakan reflektif dengan reaktif.

Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menahan reaksi emosional. Beliau bersabda:

"Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, melainkan orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ketenangan di sini adalah bentuk kekuatan batin. Ia bukan pasif, melainkan kendali diri yang terlatih.


2. Dialog Batin yang Sehat

Orang yang tenang memiliki percakapan batin yang menenangkan, bukan merusak. Saat gagal, ia berkata pada dirinya: “Ini pelajaran, besok aku akan lebih baik”, bukan “Aku payah, aku tidak berguna”.

Al-Qur’an mengajarkan konsep ini dengan istilah nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang):

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."
(QS. Al-Fajr: 27-28)

Membiasakan afirmasi positif dan doa yang menenangkan jiwa adalah bagian dari latihan menuju jiwa yang tenteram.


3. Fokus pada Nilai, Bukan Validasi

Banyak orang kehilangan ketenangan karena sibuk mencari pengakuan. Sebaliknya, orang yang tenang berpegang pada nilai: kejujuran, disiplin, tanggung jawab, meski tidak ada yang melihat atau memuji.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Barangsiapa mengenal Allah, maka ia tidak akan peduli dengan pandangan manusia kepadanya.”

Artinya, sumber ketenangan adalah kesadaran akan prinsip dan tujuan hidup, bukan sekadar sorakan orang lain.


4. Rutinitas Sebagai Penopang Jiwa

Ketenangan bukan hadir tiba-tiba. Ia dibangun melalui rutinitas kecil yang konsisten: bangun pagi dengan doa, menulis jurnal, olahraga ringan, atau sekadar duduk merenungi alam. Rutinitas ini ibarat jangkar yang menahan kapal agar tidak terombang-ambing oleh gelombang dunia luar.

Rasulullah ﷺ pun memiliki rutinitas ibadah yang konsisten: shalat malam, zikir pagi-petang, dan tilawah. Itulah yang menjaga ketenangan batin beliau, sekaligus memberi teladan bahwa stabilitas hidup lahir dari kedisiplinan spiritual.


5. Menghadapi Rasa Takut dengan Berani

Tenang bukan berarti tanpa rasa takut. Perbedaan terletak pada bagaimana menghadapi ketakutan. Orang yang tenang berkata pada rasa takutnya: “Kamu ada di sini, tapi kamu tidak pegang setir.”

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)

Keberanian adalah berjalan walau gemetar, bukan menunggu takut hilang.


6. Membeda-bedakan yang Bisa Dikontrol

Salah satu kunci ketenangan adalah kemampuan memilah: mana yang bisa dikendalikan, dan mana yang harus dilepas. Respon, sikap, dan keputusan ada di tangan kita. Tetapi perasaan orang lain, takdir, atau masa depan sepenuhnya bukan milik kita.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Aku tidak peduli pada keadaanku. Jika sesuatu yang aku sukai datang, aku bersyukur. Jika sesuatu yang aku benci datang, aku bersabar.”

Ketenangan lahir dari kebijaksanaan ini: menerima batas kendali diri.


7. Menjaga Energi, Bukan Hanya Emosi

Emosi sering meledak karena energi fisik habis. Kurang tidur, kelelahan, atau lingkungan yang penuh negativitas membuat kita mudah marah. Orang yang tenang paham bahwa tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu.”
(HR. al-Bukhari)

Tidur cukup, menjaga kesehatan, memilih lingkungan yang baik, dan memberi ruang istirahat adalah bagian dari menjaga ketenangan batin.


Penutup: Menjadi Pusat Ketenangan

Hidup tidak akan pernah sepenuhnya tenang. Dunia selalu ribut dengan masalah. Namun, kita bisa memilih untuk menjadi pusat ketenangan di dalamnya.

Mulailah dari hal kecil: tarik napas sebelum menjawab, tulis pikiranmu setiap pagi, pegang prinsip bukan validasi, hadapi satu ketakutanmu, dan lepaskan hal-hal yang di luar kendali.

Ketenangan bukan tentang diam, melainkan tentang sadar. Bukan tentang menghilangkan emosi, melainkan mengelolanya dengan bijak.

“Jangan tunggu situasi tenang untuk jadi tenang. Jadilah pusat ketenangan itu.”


📌 Referensi:

  • Al-Qur’an surat Al-Fajr: 27-28, Ali ‘Imran: 139

  • Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang menahan marah

  • Hadis riwayat al-Bukhari tentang hak tubuh

  • Ibnul Qayyim, al-Fawaid

  • Transkrip YouTube: Kebiasaan Orang yang Tenang di Situasi Apapun

0
Subscribe to my newsletter

Read articles from Ariska Hidayat directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.

Written by

Ariska Hidayat
Ariska Hidayat

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.