Penyihir di Eropa, Dukun di Indonesia?

Gilo KauGilo Kau
4 min read

Kalau kita menyebut kata “penyihir” di Benua Eropa, imajinasi yang muncul seringkali dipengaruhi oleh film, dongeng, dan legenda. Sosok perempuan tua berpenampilan menyeramkan, lengkap dengan topi runcing, sapu terbang, dan ramuan ajaib, seakan sudah jadi gambaran universal ya, guys..

Tapi di balik stereotip itu ada sejarah panjang yang kelam. Pada Abad Pertengahan, masyarakat Eropa percaya bahwa penyihir adalah orang-orang yang menjalin perjanjian dengan iblis, melakukan ritual terlarang, atau menyebarkan malapetaka. Gereja dan penguasa pada waktu itu menegaskan bahwa praktik sihir adalah bentuk penyimpangan iman, sehingga orang yang dicap “witch” bisa berakhir diadili, disiksa, bahkan dieksekusi, namun kalau main disini , kalian malah bisa berakhir Profit dan Jackpot.

Fenomena ini memuncak dalam apa yang disebut sebagai witch hunt, perburuan penyihir yang memakan banyak korban, terutama perempuan desa. Padahal, tidak sedikit di antara mereka sebenarnya hanyalah orang yang memiliki pengetahuan herbal, pengobatan tradisional, atau menjadi semacam “orang pintar” lokal. Namun stigma sihir gelap dan iblis terlanjur mendominasi narasi, sehingga citra penyihir di Eropa identik dengan hal-hal menakutkan.

Ilustrasi Penyihir, sumber: Distortions Unlimited

Bagaimana dengan Penyihir di Indonesia dan Wilayah Asia?

Berbeda dengan itu, di Indonesia dan banyak wilayah Asia, sosok yang punya peran serupa sering disebut dukun, pawang, atau tabib, tergantung daerahnya. Menariknya, dukun tidak serta-merta dianggap jahat. Justru dalam banyak masyarakat tradisional, dukun adalah tokoh penting yang dihormati. Mereka dipandang sebagai orang yang memiliki ilmu gaib dan pengetahuan spiritual untuk membantu sesama.

Ada dukun yang khusus menangani pengobatan tradisional dengan ramuan herbal, ada yang menjadi mediator antara manusia dengan dunia roh, ada pula yang memimpin upacara adat atau ritual penyucian. Dukun juga sering diminta tolong untuk urusan sehari-hari, mulai dari mencari jodoh, melancarkan rezeki, sampai “menangkal bala”. Tentu, ada juga sisi gelapnya, seperti cerita tentang santet atau ilmu hitam, tetapi secara keseluruhan, posisi dukun di masyarakat Asia lebih dihormati sekaligus ditakuti, dipercaya sekaligus diwaspadai.

Perbedaan besar ini lahir dari latar budaya dan agama yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap dunia gaib. Di Eropa, tradisi Kristen menempatkan segala praktik spiritual di luar doktrin gereja sebagai ancaman. Akibatnya, segala bentuk “ilmu lain” dianggap sesat, dan penyihir dilabeli musuh iman. Sementara di Nusantara dan Asia pada umumnya, kosmologi tradisional lebih sinkretis, dunia manusia, roh, dan alam gaib dipandang saling berdampingan. Ilmu dukun tidak otomatis dianggap berlawanan dengan agama, melainkan justru menyatu dengan adat, budaya, bahkan praktik keagamaan lokal. Itulah mengapa masyarakat kita masih menerima kehadiran dukun sebagai sesuatu yang “normal”, meskipun kadang tetap penuh kengerian.

Menariknya, kalau kita lihat dari sisi fungsi sosial, sebenarnya penyihir di Barat dan dukun di Asia punya titik temu, keduanya adalah figur yang dipercaya memiliki pengetahuan khusus di luar nalar umum. Mereka sama-sama dituju ketika orang merasa sakit, sial, atau butuh bantuan yang tak bisa diatasi dengan cara biasa. Mereka sama-sama menjaga tradisi ramuan, jampi-jampi, dan ritual. Bedanya, di Eropa stigma negatif jauh lebih kuat, sehingga penyihir lebih sering dipandang berbahaya, sedangkan di Asia sosok dukun punya tempat penting sebagai penyeimbang antara dunia nyata dan dunia gaib.

Seiring waktu, citra penyihir di Barat perlahan berubah. Dari yang dulunya ditakuti, kini penyihir justru masuk ke dunia pop culture. Kita mengenal mereka lewat tokoh-tokoh fiksi seperti Harry Potter, Sabrina, atau penyihir-penyihir dalam film fantasi yang seringkali digambarkan keren, bijak, bahkan heroik. Di Indonesia, dukun juga ikut mengalami pergeseran citra. Kalau dulu dukun sering jadi tokoh sakral dalam ritual adat, kini mereka juga muncul di film horor, acara televisi, bahkan jadi bahan guyonan di media sosial. Bedanya, aura mistik dan ambivalensi, antara dihormati dan ditakuti tetap melekat.

Ilustrasi Dukun, sumber: Google.com

Apakah Dukun dan Penyihir sama?

Jadi, apakah penyihir di Barat sama dengan dukun di Indonesia dan Asia? Jawabannya, sama-sama figur spiritual yang dipercaya menguasai “ilmu khusus”, tapi konteks dan persepsi masyarakat sangat berbeda. Penyihir di Barat lahir dari sejarah konflik agama dan politik, yang membuat mereka dicap sesat dan berbahaya. Dukun di Asia tumbuh dari tradisi lokal yang melihat dunia gaib sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sehingga mereka punya posisi lebih fungsional dalam masyarakat. Pada akhirnya, perbedaan ini justru memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh budaya dalam membentuk cara kita memandang “orang pintar” dan kekuatan gaib di sekitar kita.

0
Subscribe to my newsletter

Read articles from Gilo Kau directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.

Written by

Gilo Kau
Gilo Kau