Hubungan Stres dan Kesehatan Lambung – Psikosomatis yang Nyata

SEMARAK4D Tidak banyak yang menyadari bahwa stres memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan lambung. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh menghasilkan hormon stres seperti kortisol yang dapat memengaruhi fungsi lambung secara negatif.
Stres dapat meningkatkan produksi asam lambung, memperlambat pengosongan lambung, serta mengganggu keseimbangan flora lambung. Ini bisa menyebabkan gejala seperti nyeri, mual, kembung, bahkan tukak lambung pada beberapa orang.
Gangguan lambung yang disebabkan atau diperburuk oleh stres disebut sebagai gangguan psikosomatik. Artinya, meskipun pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kelainan serius, gejalanya tetap terasa dan nyata bagi penderita.
Gejala seperti maag yang sering kambuh saat cemas, atau refluks asam yang memburuk saat menghadapi tekanan pekerjaan adalah contoh nyata dari hubungan antara pikiran dan organ pencernaan.
Penanganan gangguan lambung akibat stres tidak hanya bisa mengandalkan obat-obatan. Terapi relaksasi, meditasi, olahraga ringan, dan tidur yang cukup sangat membantu dalam mengurangi gejala.
Beberapa pasien juga membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater untuk mengelola stres dan kecemasan secara lebih efektif. Terapi kognitif-perilaku (CBT) terbukti membantu dalam kasus-kasus lambung kronis yang terkait stres.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dalam menjaga fungsi tubuh, termasuk lambung, harus ditingkatkan. Dengan pendekatan holistik yang mencakup fisik dan mental, gangguan lambung dapat dikendalikan dengan lebih baik.
Sumber Berita : SEMARAK4D
Subscribe to my newsletter
Read articles from Semarak4d 010 directly inside your inbox. Subscribe to the newsletter, and don't miss out.
Written by
